Kita Berbeda Cara Pada Siklus Ini

Tugas rutin, tugas dadakan, iklim yang ekstrim, konflik dan kondisi keamanan yang tidak menentu, permasalahan dalam keluarga, tuntutan pencapaian atau mempertahankan nama baik, keterbatasan ruang gerak, dsb akan menjadi tekanan tersendiri bagi setiap FPUer. Hal itu menjadi tekanan dalam tugas biasanya disebabkan ketidaksiapan mental dalam menghadapi tugas. Tekanan dan kelapangan jiwa adalah tidak lepas dari manajemen diri dan kehendak ilahi. Kita perlu ingat, tidak ada beban yang terlalu berat dari yang Maha Kuasa  yang tidak mampu kita pikul.

Motivasi setiap orang dalam misi ini bisa beraneka ragam. Ada yang ingin membangun karir, ada yang ingin mencari pengalaman, ada yang ingin mengumpulkan uang, ada yang ingin melihat “dunia luar”, dsb. Dan setiap FPUer memiliki kombinasi dari empat macam temperamen.

Empat jenis temperamen Masing-masing dari empat jenis temperamen/keadaan hati (humour) berhubungan dengan tipe kepribadian yang berbeda :
Optimis (Sanguine) Kepribadian temperamen Sanguine cukup ekstrovert (terbuka). Orang-orang dari temperamen optimis cenderung untuk menikmati pertemuan sosial dan membuat teman baru. Mereka cenderung kreatif dan sering menghayal. Namun, beberapa waktu sendirian sangat penting bagi temperamen ini. Sanguine juga bisa berarti sangat sensitif, penuh kasih dan bijaksana. Kepribadian Sanguine umumnya berjuang melewati tugasnya dengan berbagai jalan, secara kronis terlambat, dan cenderung pelupa dan kadang-kadang sedikit sarkastis. Sering kali, ketika mengejar hobi baru, “bunga-cepat” hilang ketika tidak lagi menjadi menarik atau menyenangkan.

Koleris (Choleric) Seseorang yang mudah tersinggung. Mereka memiliki banyak ambisi, energi, dan semangat, dan mencoba untuk menanamkan kepada orang lain. Mereka bisa mendominasi temperamen orang lain, khususnya jenis “Apatis”. Banyak tokoh militer dan tokoh politik besar kharismatik itu “Cholerics”.

Melankolis (Melancholic) Seseorang yang berpikir penuh pertimbangan, memiliki sifat melankolis. Sering kali sangat baik dan perhatian, “Melancholics” dapat sangat kreatif – seperti dalam puisi dan seni – dan dapat menjadi sibuk dengan tragedi dan kekejaman di dunia. Melankolik juga sering perfeksionis. Mereka sering mandiri dan independen.

Dingin/Acuh tak acuh (Phlegmatic) Phlegmatics cenderung memuaskan diri/menyenangkan diri dan baik. Mereka dapat sangat menerima dan penuh kasih sayang. Mereka mungkin sangat mau menerima dan pemalu, dan sering lebih memilih stabilitas dengan ketidakpastian dan perubahan. Mereka sangat konsisten, santai, rasional, ingin tahu, dan perhatian, membuat mereka administrator yang baik dan diplomat. Berbeda dengan kepribadian Sanguine, mereka mungkin lebih diandalkan.

Ilustrasi gambar waktu di Alexandria, Mesir 2010

Seseorang terkadang dapat mengalami berbagai ketidakpastian, kecemasan dan tekanan yang memacunya untuk melakukan sesuatu sehingga ia berhasil dalam mencapai sejumlah keinginan dan cita-citanya. Kemampuan seseorang untuk memusatkan perhatian dan memotivasi diri dapat membantu meningkatkan pencapaian tertentu dan pengembangan diri. Gejala ini disebut eustress yang berarti stres baik yang berdampak positif (awalan eus dalam bahasa Yunani berarti baik) di mana kita mampu mengatasi tuntutan, tantangan dan kondisi tekanan yang kita hadapi.

Namun bila tuntutan-tuntutan tersebut sampai kepada titik di mana seseorang merasakan kegagalan atau kehilangan kemampuan untuk mengatasinya, maka situasi tersebut kemudian dikenal sebagai dystress yang berarti stres buruk yang berdampak negatif (awalan dy berarti buruk). Dalam kondisi demikian seseorang cenderung merasa kewalahan dan kehidupan terasa di luar kendali karena kecemasan berlebihan, rasa takut, kepanikan, kebingungan dan kecenderungan putus asa menghantui dirinya yang justru berakibat kebuntuan dan kontra produktif.

Stres menurut Vincent Cornelli, seorang psikolog ternama merupakan suatu gangguan pada tubuh dan pikiran yang disebabkan oleh perubahan dan tuntutan kehidupan dan dipengaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu dalam lingkungan tersebut. Dan secara spesifik stres merupakan gejala psikologis yang menurut Richard Lazarus, psikolog yang banyak melakukan penelitian tentang stres sebagai sebuah hubungan khusus antara seseorang dengan lingkungannya yang dianggap melampaui kemampuan dan membahayakan kebahagiaan dan kepuasannya. Atau singkatnya merupakan gejala yang timbul akibat kesenjangan (gap) antara realita dan idealita, antara keinginan dan kenyataan, antara tantangan dan kemampuan, antara peluang dan potensi.

Hakikatnya stres merupakan gejala harian yang wajar dan setiap orang pasti mengalaminya dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan, tetapi ia tak ubahnya seperti tantangan lainnya yang harus dihadapi dalam hidup. Oleh karena itu stres bukan untuk ditakuti melainkan justru kita harus berani mengatasinya dengan pengelolaan dan pengendalian stres dengan sikap dan mental positif yaitu dihadapi dengan kepala tegak (saya tidak takut menghadapinya), percaya diri (saya bisa mengatasinya); optimisme solusi (apa yang harus saya lakukan terhadapnya); pengendalian (saya akan mengendalikannya), penerimaan (stres memang bagian hidup yang alamiah), perencanaan (bagaimana saya akan mengatasinya), dan dengan bantuan pihak lain jika memang diperlukan.

Manajemen stres dengan metode pengembangan karakter efektif dapat dilakukan melalui pengendalian stres secara efektif di antaranya berupa pembebasan diri dari pikiran dengan merubah pola berfikir irasional dengan berfikir rasional dan mengefisienkan sikap mental yang boros atau menguras emosi dan energi. Agar dapat efisien, kita harus berusaha melatih agar sikap dan mental kita bersifat Fleksibel yaitu tidak hanya menggunakan satu sudut pandang saja dalam melihat berbagai kejadian dan peristiwa, Adaptif (terbuka secara selektif), Rasional (gabungan argumentatif antara realisme dan idealisme), Positif (itikad, niat dan tekad kuat dan baik disertai keyakinan) dan berorientasi Solusi (tidak suka meratap dan mengeluh tetapi mencari jalan keluar yang terbaik). Sikap mental yang efisien ini dikenalkan ahli psikologi dalam manajemen kepribadian dengan sikap FARPS.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: